Tugas 3
Budaya Mudik dari Dampak Positif dan Negative
Fenomena pulang kampung (mudik) pada saat Idul Fitri telah
menjadi peristiwa budaya dan keagamaan yang sangat semarak. Menjelang Idul
Fitri 1433 H, menurut Suroyo Alimoeso, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian
Perhubungan RI, diprediksi jumlah pemudik mencapai 16 juta jiwa.
Besarnya jumlah pemudik yang puncaknya diperkirakan dua-tiga hari menjelang
Idul Fitri, telah menimbulkan permasalahan yang tidak mudah dipecahkan. Karena
dalam waktu yang hampir bersamaan puluhan juta orang melakukan perjalanan
mudik, melalui darat dengan kendaraan sepeda motor, mobil, kendaraan umum (bus)
dan kereta api, serta udara dengan pesawat terbang, dan laut dengan kapal laut.
Permasalahan yang ditimbulkan dari mudik antara lain:
Pertama, banyak kecelakaan lalulintas. Dari tahun ke tahun, terus meningkat
angka kecelakaan. Tahun ini H-9 dan H-8 (Sabtu 11/8 dan Minggu 12/8), menurut
Data Kepolisian Republik Indonesia telah meninggal sebanyak 88 orang.
Kecelakaan paling banyak ialah pengendara sepeda motor. Faktor kecelakaan
banyak disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan raya, dan cuaca.
Walaupun angka kecelakaan tinggi, para pemudik tidak takut dengan bahaya yang
mengancam.
Kedua, berutang dan menggadaikan barang demi mendapatkan uang untuk biaya
mudik. Ini merupakan permasalahan dan tantangan yang setiap tahun dijalani
sebagian pemudik. Demi mudik ke kampung halaman, mereka berutang dan
menggadaikan barang.
Ketiga, biaya perjalanan meningkat berlipat kali, karena semua moda
transportasi menaikkan biaya menjelang dan sesudah lebaran Idul Fitri. Karena
itu para mudik sebagian besar menggunakan kendaraan sepeda motor, walaupun
tingkat kecelakaan sangat tinggi dari tahun ke tahun.
Tujuan Mudik
Beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat
dan kemauan mudik ke kampung halaman. Paling tidak ada lima alasan yang menjadi
tujuan para pemudik pulang kampong
Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya.
Begitu kuat tarikan keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam
mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan
tetapi, yang diampuni hanya dosa di hadapan Allah, sedang dosa kepada orang
tua, saudara kandung, tetangga dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali
saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahim antara satu
dengan yang lain.
Kedua, ziarah ke kubur. Telah menjadi budaya di kalangan masyarakat bahwa
menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili
pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga
terdekat sambil mendoakan. Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik. Bagi
mereka yang berasal dari kampung. Maka dalam kesempatan Idul Fitri dilakukan
ziarah ke kubur, selain silaturahim.
Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman
selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai
makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman. Oleh karena itu,
tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan,
mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Keempat, bernostagia di kampung halaman. Masa kecil di kampung halaman adalah
masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah
itu, selalu ingin diperbaruai dengan pulang kampung sambil membawa keluarga
seperti anak, menantu dan istri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa
dahulu.
Kelima, unjuk diri kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga mewarnai
perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung. Budaya pamer berlaku kepada
semua tingkatan sosial. Maka momentum Lebaran, pulang kampung dengan niat yang
bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).
Dampak Negatif Mudik
Mudik Lebaran yang sudah menjadi budaya, diakui atau tidak, mempunyai dampak
negatif. Pertama, konsumerisme, pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku
yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri.
Di mana hasil puasa selama sebulan penuh, seharusnya semakin menghadirkan
ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah dan sesama manusia yang sebagian besar
masih mengalami kesulitan hidup. Mereka masih dihimpit kemiskinan, kebodohan
dan keterbelakangan.
Kedua, bisa mengundang cemburu dan iri hati para penduduk kampung Pulangnya
para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan
misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan
'cultural shock' (goncangan budaya). Di mana orang-orang kampung atau desa
meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, misalnya
berutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli motor, mobil
dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.
Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan perempuan
merantau, dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk mendapatkan harta
dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan
harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan menampilkan kekayaan
dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun lalu.
Ketiga, memacu urbanisasi dan migrasi. Mudik Lebaran, juga bisa berdampak
negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari
kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia. Selain itu, juga dapat
mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan penduduk dari satu negara ke
negara lain. Dalam sejarah mudik Lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik
lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan
kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota.
Sebenarnya peristiwa urbanisasi dan migrasi adalah sesuatu yang lumrah dalam
kehidupan modern, dan merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin dan
dilindungi oleh hukum dan undang untuk melakukan sesuai yang diinginkan. Akan
tetapi, urbanisasi dan migrasi ke negara lain misalnya ke negeri jiran
Malaysia, dan Arab Saudi, banyak menimbulkan masalah, karena mereka yang
melakukan urbanisasi dan migrasi ke negara lain, tidak memiliki pendidikan dan
kepakaran (skill) yang memadai. Akibatnya untuk bertahan hidup di kota atau di
negara lain, mereka terpaksa melakukan berbagai perbuatan yang bertentangan
dengan hukum seperti menjadi penjual seks, peminta-minta, bahkan pencuri dan
perampok.
Dampak Positif Mudik
Mudik Lebaran, di samping menimbulkan dampak negatif, juga banyak dampak
positifnya. Pertama, dampak ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan
dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman. Mereka pulang dengan membawa
uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung,
sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi.
Mereka menyewa hotel dan penginapan, telah mendorong kemajuan kampung halaman
karena membuka dan memajukan bisnis penginapan dan hotel. Belum lagi, pemudik
memberi sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan
penduduk di kampung halaman mereka.
Kedua, silaturahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung
terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini
sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampong
Ketiga, persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara.
Bangsa Indonesia yang amat tinggi rasa keagamaan (religiusitas)-nya, telah
memberi andil yang besar untuk menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan
kesatuan seluruh bangsa Indonesia melalui medium silaturahim Idul Fitri. Hal
ini, tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para
pemudik.
Keempat, pengamalan agama. Peristiwa mudik Lebaran, juga mempunyai dampak
positif dalam pengamalan ajaran Islam. Karena di tengah kemajuan yang membawa
manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak
lain dan merasa terganggu, melalui medium silaturahim Idul Fitri dalam rangka
hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi
budaya seluruh bangsa Indonesia.
Kelima, secara sosiologis, mudik Lebaran mendekatkan si perantau yang sudah
sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua,
famili dan teman-teman. Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan
sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Kesimpulan
Peristiwa mudik Lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara,
dijaga dan dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak
negatifnya. Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan
melakukan, pertama, meningkatkan kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam
perjalanan mudik adalah segalanya.
Mereka yang akan mudik, dan sedang dalam perjalanan mudik, diharapkan semakin
hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan, harus
berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan.
Pada tahun-tahun mendatang, mudik dengan kendaraan bermotor secara bertahap
harus dihentikan dengan menitipkan kendaraannya di kapal laut, dan kereta api
untuk diantar ke kampung halaman. Suami istri, dan dan anak-anak, sebaiknya
memilih kendaraan umum, kereta api atau kapal laut untuk keselamatan dalam
perjalanan mudik.
Kedua, pemerintah harus terus meningkatkan penyediaan
transportasi massal untuk melayani pemudik. Selain itu, berbagai perusahaan
yang peduli pemudik, dari jauh hari harus bekerja sama dengan media untuk
memberitahu masyarakat tentang adanya penyediaan fasilitas mudik.
Ketiga, para pemudik harus membuat perencanaan. Paling kurang tiga bulan
sebelum mudik sudah memesan tiket dan menghubungi perusahaan atau organisasi
yang biasa menyelenggarakan mudik bareng secara gratis.
Keempat, pemerintah terutama Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya
membuat jalan yang berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang. Jangan
seperti sekarang, setiap tahun jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal
sulam dan tidak pernah baik.
Kelima, sudah saatnya seluruh bangsa Indonesia terutama para pemudik
meningkatkan disiplin dalam berlalu lintas. Pada saat yang sama, aparat
kepolisian sebagai aparat penegak keamanan, menindak mereka yang tidak disiplin
dalam berlalu lintas.
Semoga semangat mudik Lebaran mendorong seluruh bangsa Indonesia untuk
mengambil hikmah yang positif dan negatif dari peristiwa mudik, demi perbaikan
di masa depan.