SEJARAH
PERKEMBANGAN FIFA
Sepakbola
adalah olahraga yang sudah mengalami proses panjang mengarungi perkembangan
zaman dan peradaban yang dapat ditelusuri di berbagai tempat bahkan sebelum
masehi.Era Mesir purba, misalnya, telah mengenal bola dengan kain linen. Bola
tersebut sendiri kini masih tersimpan di museum Inggris. Tentara Romawi juga
memiliki sejenis sepak bola yang disebut harpastuna.
Permainan
serupa juga telah terdapat di Yunani pada zaman Yunani kuno, Meksiko, dan
Jepang. Berbagai relief dinding di museum menunjukkan bahwa permainan bola
sudah dikenal di peradaban Yunani purba dan disebut episcuro. Pada relief
tersebut, terlukis seorang anak muda memegang bola bundar dan memainkannya
dengan paha.
Tercatat
sebagai negara yang mengembangkan permainan ini sebagai permainan tim modern
ialah negara Inggris. Dalam perkembangannya, pada tahun 1815, Eton College
menciptakan sejumlah aturan permainan dan permainan tersebut lebih merupakan
suatu bentuk olahraga.
Pada
tahun 1844 di perkenalkan aturan Cambridge yang disepakati oleh 14 (empat
belas) perwakilan berbagai sekolah umum yang memainkan permainan sepakbola saat
itu (dua kali di revisi pada tahun 1850) yang ditulis di Trinity College,
Cambridge.
Pada
tahun 1855, Cricketers dan rekan-rekannya dari sekolah Collingswood membentuk
klub sepakbola pertama yaitu Sheffield FC, dan pada tahun 1860 telah ada lima
belas klub di Sheffield. Pada era 1860-an, para insinyur asal Inggris yang
mengerjakan proyek rel kereta api mulai mengenalkan sepakbola di daratan
Argentina, Brasil, Uruguay, dan menyebar terus di seantero Amerika Selatan.
Pada
tanggal 8 desember 1863, Inggris meresmikan Football Association dengan aturan
mainnya di Freemason Tavern,Great Queen Street, London.Football Association
yang didirikan pada tanggal 26 Oktober 1863 di maksudkan untuk membuat
keseragaman peraturan di bidang permainan ini. Pada tanggal 10 November di
tahun yang sama, pengurus FA bertemu untuk membahas berbagai aturan permainan
sepakbola yang di sepakati oleh para anggotanya.
Setelah
itu terbentuklah berbagai asosiasi persepakbolaan yang terus berlangsung di
Inggris hingga terbentuk International Football Association Board (IFAB) pada
tahun 1886 setelah pertemuan antara Manchester of the Football Association, the
Scottish Football Association, the Football Association of Wales, dan the Irish
Football Association.
Pada
tanggal 21 Mei 1904 Federation International Football Association (FIFA)
didirikan di Paris, Perancis. Diprakarsai oleh enam asosiasi sepakbola di
Eropa, yakni USFA Prancis, UBSSA Belgia, DBU Denmark, NVB Belanda, Madrid Fc
Spanyol, SBF Swedia, dan ASF Swiss.
Pada
tahun 1946 FA bergabung ke FIFA, ketika sekretaris FA Sir Stanley Rous
meninggalkan FA dan menjadi Presiden FIFA pada tahun 1960. Semenjak itu lah
Organisasi ini berkembang pesat.Pada tahun 1952 PSSI menjadi Anggota FIFA dan
mengikatkan diri sebagai bahagian integral dari Organisasi FIFA.
Pada
ulang tahunnya yang ke-25, FIFA beranggotakan 40 negara, kemudian di tahun 1963
keanggotaannya mencapai 100.Hingga saat ini FIFA memiliki 209 anggota yang
berupa asosiasi-asosiasi sepakbola di negara masing-masing. Terdapat enam
konfederasi di bawah FIFA :
1.
Asian Football Confederation (AFC) untuk Asia dengan 46 anggota asosiasi
sepakbola negara.
2.
Confederation Africaine de Football (CAF) untuk Afrika dengan 53 anggota.
3.
Confederation of North, Central American and Caribean Association Football
(CONCACAF) untuk Amerika Tengah dan Utara serta karibean
4.
Confederation Sudamericana de Futbol (CONMEBOL) untuk Amerika Selatan dengan 10
anggota.
5.
Oceania Football Confederation (OFC) untuk Oceania dengan 11 anggota.
6.
The Union des Associations Europeennes de Football (UEFA) dengan 53 anggota.
FIFA
merupakan organisasi internasional yang memiliki dan mengelola sepakbola
professional secara tunggal di dunia, yang didirikan berdasarkan ketentuan
Pasal 60 Swiss Civil Code dan diakui keberadaannya oleh negara-negara di dunia.
Jumlah keanggotaan FIFA lebih besar dibandingkan dengan keanggotaan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang hanya 192 negara saja.
Anggota
FIFA bukanlah negara, melainkan asosiasi sepakbola swasta tunggal yang dibentuk
oleh sekelompok orang yang mengelola klub sepakbola yang berbadan hukum di
Negara yang bersangkutan sesuai dengan mekanisme dan sistem aturan yang
ditetapkan
Pasal
10 ayat (1) Statuta FIFA .“Any Association Which is responsible for organizing
and supervising football in its country may become a member of FIFA. In this
context, the expression “country” shall refer to an independent state
recognized by the international community. Subject to par. 5 and par. 6 below,
only one Association shall be recognized in each country.”
Sanksi FIFA
Mengenai sepakbola Indonesia, FIFA
telah mengambil sikap. Badan tertinggi sepakbola dunia tersebut telah
menjatuhkan hukuman terhadap PSSI. Hukuman ini berlaku segera dan akan
berlangsung hingga waktu yang belum ditentukan.
Selama masa hukuman, Indonesia kehilangan banyak hak sepakbolanya, termasuk ikut serta dalam kejuaraan. Ada pengecualian, memang, yang membuat Tim Nasional Indonesia tetap dapat ambil bagian di SEA Games. Namun bukan itu poin utamanya. Lama atau tidaknya hukuman FIFA tergantung PSSI sendiri.
Sebagaimana hukuman yang berlaku segera, pencabutan hukuman pun dapat dilakukan dengan segera. Selama, tentu saja, PSSI mampu memenuhi empat ketentuan pencabutan hukuman yang ditentukan FIFA. Ketentuan pertama dari empat ketentuan tersebut adalah: Komite Eksekutif PSSI terpilih dapat mengelola perkara PSSI secara mandiri dan tanpa pengaruh dari pihak ketiga, termasuk kementerian (atau badan kementerian).
Ketentuan kedua berisi pengembalian kewenangan terhadap tim nasional Indonesia kepada PSSI: Tanggung jawab mengenai tim nasional Indonesa kembali menjadi kewenangan PSSI. Seperti ketentuan kedua, ketentuan ketiga dan keempat juga berisi pengembalian kewenangan kepada PSSI (“tanggung jawab mengenai semua kejuaraan PSSI kembali menjadi kewenangan PSSI atau liga yang dibawahinya” dan “semua kesebelasan yang berlisensi PSSI di bawah regulasi lisensi kesebelasan PSSI dapat berkompetisi di kejuaraan PSSI”).
Selama masa hukuman, PSSI kehilangan hak-hak keanggotaan mereka di FIFA. Selain itu, semua kesebelasan Indonesia (tim nasional atau klub) tidak dapat terlibat dalam kontak olah raga internasional. Hak-hak yang hilang dan larangan yang berlaku termasuk hak untuk ikut serta dalam kejuaraan FIFA dan AFC (Asian Football Confederation, Federasi Sepakbola Asia).
Hukuman yang dijatuhkan FIFA tidak hanya membatasi hak-hak kesebelasan. Anggota dan pengurus PSSI juga tidak dapat terlibat, termasuk sebagai peserta, dalam setiap program pengembangan bakat, kursus, atau pelatihan yang diselenggarakan FIFA maupun AFC.
Secara khusus, dalam surat keputusannya, FIFA menyoroti keikutsertaan tim nasional Indonesia di South East Asean Games 2015 (SEA Games 2015) di Singapura. Mengingat hal ini termasuk kontak olahraga internasional, tim nasional Indonesia seharusnya tidak dapat ikut serta di cabang olahraga sepakbola SEA Games 2015. Namun FIFA memberi pengecualian. Tim nasional Indonesia dapat ikut serta di SEA Games 2015.
“Secara khusus dan tidak berhubungan dengan hukuman, Komite Eksekutif FIFA telah memutuskan bahwa tim nasional Indonesia dapat meneruskan keikutsertaan mereka di SEA Games hingga keikutsertaan mereka berakhir,” bunyi pernyataan FIFA di surat resmi yang mereka keluarkan mengenai penjatuhan hukuman terhadap PSSI.
Sebagai catatan, pertandingan-pertandingan di cabang olahraga sepakbola SEA Games tidak termasuk dalam agenda FIFA sehingga hasil pertandingan-pertandingannya tidak akan memengaruhi peringkat Indonesia di ranking FIFA dan, karenanya, tidak menjadi kewenangan FIFA juga melarang Indonesia ikut serta di SEA Games.
Begitu juga kompetisi sepakbola nasional yang masih dapat bergulir tanpa pengaruh sanksi tersebut. Sementara itu secara terpisah presiden Joko Widodo mengatakan mendukung langkah Menpora soal keputusannya terhadap PSSI.
“Melihat permasalahannya harus lebih lebar. Kita ini hanya ingin ikut di ajang internasional atau berprestasi di ajang internasional?” sebut Jokowi dikutip dari CNN Indonesia.
“Jika hanya ingin ikut ajang internasional namun selalu kalah, lalu kebanggaan kita ada dimana, itu yang saya ingin tanyakan,” tambahnya.
“Kita selalu ikut ajang internasional namun selalu kalah. Yang kita lakukan adalah pembenahan total, pembenahan total daripada kita punya prestasi seperti ini terus sepanjang masa.”
Suporter sepak bola Indonesia sepertinya harus kembali menelan pil pahit. Pasalnya, Indonesia mendapatkan sanksi dari Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC. Sanksi tersebut merupakan buntut dari aksi berlebihan yang dilakukan oleh penonton. AFC menilai bahwa aksi yang dilakukan pada 2 laga pertandingan kualifikasi Piala AFC U-23 yaitu melawan Timor Leste dan Korea Selatan sangat berlebihan. Hal tersebut tetap tidak diperkenankan walaupun saat itu Indonesia menjadi tim tuan rumah. Aksi berlebihan yang dimaksud oleh pihak AFC adalah aksi menyalakan kembang api. Walaupun sepertinya sepele dan sering dilakukan, namun pada ajang AFC supporter memang tidak diperkenankan untuk menyalakan kembang api.
Buntut dari aksi berlebihan tersebut, tim Garuda harus rela bermain tanpa supporter pada dua pertandingan Pra-Piala Dunia dan Kualifikasi Piala Asia. Itu artinya, laga tim Indonesia melawan Irak yang akan dilakukan pada 16 Juni 2015 mendatang akan digelar tanpa supporter. Selain itu, Pada laga kandang kontra Thailand yang akan dilakukan pada tanggal 10 Agustus 2015, Indonesia juga kehilangan hak kandangnya karena dinyatakan bermain di tempat netral. Parahnya lagi, keikutsertaan Indonesia dalam 2 ajang tersebut juga masih tidak jelas. Hal ini erat kaitannya dengan kondisi perseteruan antara pemerintah dan PSSI yang masih terus memanas.
Selain itu, tim transisi yang sedianya bertemu dengan petinggi FIFA pada tanggal 25 Mei 2015 harus dibatalkan. FIFA telah membahas mengenai pertemuan tim transisi dengan pihaknya. Mereka membalas melalui facsimile dan menyatakan penyesalannya karena harus membatalkan pertemuan tersebut. Alasan pembatalan pertemuan tersebut adalah karena pada tanggal tersebut diadakan Kongres FIFA. Namun, dalam surat tersebut FIFA juga menekankan pihak pemerintah Indonesia untuk segera membatalkan sanksi pembekuan PSSI. FIFA memberikan tenggat waktu hingga tanggal 29 Mei 2015. Jika masalah PSSI tersebut belum bisa diselesaikan, maka pihak FIFA akan memberikan sanksi kepada Indonesia. Jika pada kongres umum nanti tiga perempat dari anggota setuju untuk menjatuhkan sanksi, maka Indonesia sudah pasti akan mendapatkan sanksi sesuai dengan Statuta FIFA pasal 14. FIFA memang akan melakukan kongres umum di Zurich pada tanggal 28 Mei hingga 29 Mei 2015 mendatang.
Lalu, apa yang diharapkan oleh pemain tim Indonesia U-23 kepada para supporter terkait dengan sanksi yang diberikan serta ketidakjelasan keikutsertaan tersebut? Kapten tim nasional Indonesia U-23 menyatakan jika Indonesia jadi berlaga dua ajang tersebut, maka timnya berharap bahwa supporter Indonesia bisa memenuhi Gelora Bung Karno saat berhadapan dengan Brunei Darussalam. Manahati Lestusen menyatakan bahwa dukungan supporter sangat penting dan kehadiran mereka membuat tim Indonesia menjadi semangat dan senang.
“Dengan adanya sanksi FIFA terhadap PSSI, kompetisi jadi tidak menentu dan entah akan sampai kapan. Kuncinya ada di pemerintah,” kata Asdian, Rabu, 3 Juni 2015.
Asdian akan membicarakan soal nasib tim Semen Padang dengan komisaris perusahaan tersebut. Menurut dia, dampak sanksi FIFA bukan hanya akan dirasakan oleh klub, tapi juga para pemain yang kehidupannya sangat bergantung pada kompetisi sepak bola. “Kami ingin badai ini cepat berlalu,” ujarnya.
Rencana pemerintah untuk menggulirkan kompetisi setelah Lebaran sangat sulit diterima Semen Padang. Menurut dia, gelaran kompetisi liga profesional akan sangat membutuhkan banyak biaya dan sponsor untuk bertanding. “Klub memiliki kehidupan profesional, punya biaya, dan kehidupan dari sponsor,” ucapnya.
Selama masa hukuman, Indonesia kehilangan banyak hak sepakbolanya, termasuk ikut serta dalam kejuaraan. Ada pengecualian, memang, yang membuat Tim Nasional Indonesia tetap dapat ambil bagian di SEA Games. Namun bukan itu poin utamanya. Lama atau tidaknya hukuman FIFA tergantung PSSI sendiri.
Sebagaimana hukuman yang berlaku segera, pencabutan hukuman pun dapat dilakukan dengan segera. Selama, tentu saja, PSSI mampu memenuhi empat ketentuan pencabutan hukuman yang ditentukan FIFA. Ketentuan pertama dari empat ketentuan tersebut adalah: Komite Eksekutif PSSI terpilih dapat mengelola perkara PSSI secara mandiri dan tanpa pengaruh dari pihak ketiga, termasuk kementerian (atau badan kementerian).
Ketentuan kedua berisi pengembalian kewenangan terhadap tim nasional Indonesia kepada PSSI: Tanggung jawab mengenai tim nasional Indonesa kembali menjadi kewenangan PSSI. Seperti ketentuan kedua, ketentuan ketiga dan keempat juga berisi pengembalian kewenangan kepada PSSI (“tanggung jawab mengenai semua kejuaraan PSSI kembali menjadi kewenangan PSSI atau liga yang dibawahinya” dan “semua kesebelasan yang berlisensi PSSI di bawah regulasi lisensi kesebelasan PSSI dapat berkompetisi di kejuaraan PSSI”).
Selama masa hukuman, PSSI kehilangan hak-hak keanggotaan mereka di FIFA. Selain itu, semua kesebelasan Indonesia (tim nasional atau klub) tidak dapat terlibat dalam kontak olah raga internasional. Hak-hak yang hilang dan larangan yang berlaku termasuk hak untuk ikut serta dalam kejuaraan FIFA dan AFC (Asian Football Confederation, Federasi Sepakbola Asia).
Hukuman yang dijatuhkan FIFA tidak hanya membatasi hak-hak kesebelasan. Anggota dan pengurus PSSI juga tidak dapat terlibat, termasuk sebagai peserta, dalam setiap program pengembangan bakat, kursus, atau pelatihan yang diselenggarakan FIFA maupun AFC.
Secara khusus, dalam surat keputusannya, FIFA menyoroti keikutsertaan tim nasional Indonesia di South East Asean Games 2015 (SEA Games 2015) di Singapura. Mengingat hal ini termasuk kontak olahraga internasional, tim nasional Indonesia seharusnya tidak dapat ikut serta di cabang olahraga sepakbola SEA Games 2015. Namun FIFA memberi pengecualian. Tim nasional Indonesia dapat ikut serta di SEA Games 2015.
“Secara khusus dan tidak berhubungan dengan hukuman, Komite Eksekutif FIFA telah memutuskan bahwa tim nasional Indonesia dapat meneruskan keikutsertaan mereka di SEA Games hingga keikutsertaan mereka berakhir,” bunyi pernyataan FIFA di surat resmi yang mereka keluarkan mengenai penjatuhan hukuman terhadap PSSI.
Sebagai catatan, pertandingan-pertandingan di cabang olahraga sepakbola SEA Games tidak termasuk dalam agenda FIFA sehingga hasil pertandingan-pertandingannya tidak akan memengaruhi peringkat Indonesia di ranking FIFA dan, karenanya, tidak menjadi kewenangan FIFA juga melarang Indonesia ikut serta di SEA Games.
Begitu juga kompetisi sepakbola nasional yang masih dapat bergulir tanpa pengaruh sanksi tersebut. Sementara itu secara terpisah presiden Joko Widodo mengatakan mendukung langkah Menpora soal keputusannya terhadap PSSI.
“Melihat permasalahannya harus lebih lebar. Kita ini hanya ingin ikut di ajang internasional atau berprestasi di ajang internasional?” sebut Jokowi dikutip dari CNN Indonesia.
“Jika hanya ingin ikut ajang internasional namun selalu kalah, lalu kebanggaan kita ada dimana, itu yang saya ingin tanyakan,” tambahnya.
“Kita selalu ikut ajang internasional namun selalu kalah. Yang kita lakukan adalah pembenahan total, pembenahan total daripada kita punya prestasi seperti ini terus sepanjang masa.”
Suporter sepak bola Indonesia sepertinya harus kembali menelan pil pahit. Pasalnya, Indonesia mendapatkan sanksi dari Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC. Sanksi tersebut merupakan buntut dari aksi berlebihan yang dilakukan oleh penonton. AFC menilai bahwa aksi yang dilakukan pada 2 laga pertandingan kualifikasi Piala AFC U-23 yaitu melawan Timor Leste dan Korea Selatan sangat berlebihan. Hal tersebut tetap tidak diperkenankan walaupun saat itu Indonesia menjadi tim tuan rumah. Aksi berlebihan yang dimaksud oleh pihak AFC adalah aksi menyalakan kembang api. Walaupun sepertinya sepele dan sering dilakukan, namun pada ajang AFC supporter memang tidak diperkenankan untuk menyalakan kembang api.
Buntut dari aksi berlebihan tersebut, tim Garuda harus rela bermain tanpa supporter pada dua pertandingan Pra-Piala Dunia dan Kualifikasi Piala Asia. Itu artinya, laga tim Indonesia melawan Irak yang akan dilakukan pada 16 Juni 2015 mendatang akan digelar tanpa supporter. Selain itu, Pada laga kandang kontra Thailand yang akan dilakukan pada tanggal 10 Agustus 2015, Indonesia juga kehilangan hak kandangnya karena dinyatakan bermain di tempat netral. Parahnya lagi, keikutsertaan Indonesia dalam 2 ajang tersebut juga masih tidak jelas. Hal ini erat kaitannya dengan kondisi perseteruan antara pemerintah dan PSSI yang masih terus memanas.
Selain itu, tim transisi yang sedianya bertemu dengan petinggi FIFA pada tanggal 25 Mei 2015 harus dibatalkan. FIFA telah membahas mengenai pertemuan tim transisi dengan pihaknya. Mereka membalas melalui facsimile dan menyatakan penyesalannya karena harus membatalkan pertemuan tersebut. Alasan pembatalan pertemuan tersebut adalah karena pada tanggal tersebut diadakan Kongres FIFA. Namun, dalam surat tersebut FIFA juga menekankan pihak pemerintah Indonesia untuk segera membatalkan sanksi pembekuan PSSI. FIFA memberikan tenggat waktu hingga tanggal 29 Mei 2015. Jika masalah PSSI tersebut belum bisa diselesaikan, maka pihak FIFA akan memberikan sanksi kepada Indonesia. Jika pada kongres umum nanti tiga perempat dari anggota setuju untuk menjatuhkan sanksi, maka Indonesia sudah pasti akan mendapatkan sanksi sesuai dengan Statuta FIFA pasal 14. FIFA memang akan melakukan kongres umum di Zurich pada tanggal 28 Mei hingga 29 Mei 2015 mendatang.
Lalu, apa yang diharapkan oleh pemain tim Indonesia U-23 kepada para supporter terkait dengan sanksi yang diberikan serta ketidakjelasan keikutsertaan tersebut? Kapten tim nasional Indonesia U-23 menyatakan jika Indonesia jadi berlaga dua ajang tersebut, maka timnya berharap bahwa supporter Indonesia bisa memenuhi Gelora Bung Karno saat berhadapan dengan Brunei Darussalam. Manahati Lestusen menyatakan bahwa dukungan supporter sangat penting dan kehadiran mereka membuat tim Indonesia menjadi semangat dan senang.
“Dengan adanya sanksi FIFA terhadap PSSI, kompetisi jadi tidak menentu dan entah akan sampai kapan. Kuncinya ada di pemerintah,” kata Asdian, Rabu, 3 Juni 2015.
Asdian akan membicarakan soal nasib tim Semen Padang dengan komisaris perusahaan tersebut. Menurut dia, dampak sanksi FIFA bukan hanya akan dirasakan oleh klub, tapi juga para pemain yang kehidupannya sangat bergantung pada kompetisi sepak bola. “Kami ingin badai ini cepat berlalu,” ujarnya.
Rencana pemerintah untuk menggulirkan kompetisi setelah Lebaran sangat sulit diterima Semen Padang. Menurut dia, gelaran kompetisi liga profesional akan sangat membutuhkan banyak biaya dan sponsor untuk bertanding. “Klub memiliki kehidupan profesional, punya biaya, dan kehidupan dari sponsor,” ucapnya.
Kata
Roy Suryo: Sanksi FIFA Adalah Sejarah Kelam dan Mimpi Buruk Sepak Bola
Indonesia
Kicauan netizen di media sosial twitter ramai membahas
penjatuhan sanksi federasi sepak bloa dunia FIFA kepada sepakbola di Indonesia.
Praktis membuat pro dan kontra perihal hukuman yang menykitkan bagi bangsa ini. "Sanksi FIFA" hanya dalam hitungan jam saja
langsung menjadi trending topik jadi bahan kicauan paling berisik
para netizen tanah air.
Termasuk Mantan Menpora Roy Suryo turut
meramaikan kicauan tersebut melalui akun miliknya di @KRMTRoySuryo, beliau salah satu netizen yang kontar
dengan kebijakan pemerintahan Jokowi. Dimana ia malah menganggap sanksi FIFA
sebagai sejarah kelam dalam dunia persepak bolaan indonesia.
"Tweeps, Ini Sejarah kelam &
Mimpi buruk tidak hanya bagi Sepakbola Indonesia, namun juga Dunia OR umumnya
#SanksiFIFA," tulis Roy Suryo dalam akun twitternya.
Akun @KRMTRoySuryo sendiri sudah mulai berkicau pada 17.34 WIB, saat berita tentang jatuhnya hukuman FIFA untuk Indonesia telah resmi. Dalam kicauan itu juga terpasang gambar surat berjudul "Decision Of the FIFA Executive Committee: Suspension Of PSSI".
Akun @KRMTRoySuryo sendiri sudah mulai berkicau pada 17.34 WIB, saat berita tentang jatuhnya hukuman FIFA untuk Indonesia telah resmi. Dalam kicauan itu juga terpasang gambar surat berjudul "Decision Of the FIFA Executive Committee: Suspension Of PSSI".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar